← Back to News
KEBUTUHAN OBAT MALARIA DI MIMIKA CAPAI 2 JUTA TABLET PER TAHUN
TIMIKA, RPM– Kebutuhan obat malaria di Kabupaten Mimika mencapai 2 juta tablet per tahun dalam 3-4 tahun terakhir, meskipun rata-rata yang diterima hanya sekitar 1,2-1,3 juta tablet – menyisakan kekurangan sekitar 700-800 ribu tablet. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra.
"Masalah kekurangan obat ini sudah menjadi isu yang ditindak lanjut oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah dan dilaporkan ke Kementerian Kesehatan , bukan cuma di Timika, tapi seluruh Tanah Papua," ujar Reynold Rabu (26/11/2025)
Meskipun ada kekurangan, dia menyatakan bahwa stok obat malaria saat ini cukup bertahan sampai Februari mendatang. "Kemarin thermal case bawa stok obat, dan menurut laporan Kemenkes, obat untuk toko obat di triwulan terakhir tahun ini akan dikirim semua. Saya cukup optimis," katanya.
Jumlah obat yang dibutuhkan tidak hanya bergantung pada jumlah kasus, tetapi juga berat badan pasien. "Misalnya, pasien dengan berat badan 80 kg akan minum 5 obat biru per hari selama 3 hari, jadi kebutuhan per hari adalah 15 tablet , berbeda dengan pasien yang berat badannya 60 atau 70 kg," jelasnya.
Untuk mempermudah akses, Dinas Kesehatan telah membuat Perjanjian Kerjasama (PKS) antara klinik dan Puskesmas. Pasien bisa mendapatkan obat gratis hanya dengan menghubungi Puskesmas terdekat melalui telepon atau WhatsApp, tanpa perlu bergerak jauh.
Tahun ini, kasus positif malaria diprediksi lebih rendah dibandingkan tahun lalu (sekitar 166-170 ribu kasus) dengan prevalensi diarahkan pada 16-18% untuk tahun 2025. Jumlah testing juga meningkat dari 700 ribu orang tahun lalu menjadi hampir 1 juta orang.
Reynold menambahkan bahwa Kemenkes saat ini fokus mempercepat eliminasi malaria melalui desa, dengan program pengobatan cepat sesuai standar yang akan dimulai Januari tahun depan. "Tujuan kami adalah obat tetap tersedia, pengobatan sesuai standar, dan benar-benar gratis," Pungkasnya.(ind)
"Masalah kekurangan obat ini sudah menjadi isu yang ditindak lanjut oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah dan dilaporkan ke Kementerian Kesehatan , bukan cuma di Timika, tapi seluruh Tanah Papua," ujar Reynold Rabu (26/11/2025)
Meskipun ada kekurangan, dia menyatakan bahwa stok obat malaria saat ini cukup bertahan sampai Februari mendatang. "Kemarin thermal case bawa stok obat, dan menurut laporan Kemenkes, obat untuk toko obat di triwulan terakhir tahun ini akan dikirim semua. Saya cukup optimis," katanya.
Jumlah obat yang dibutuhkan tidak hanya bergantung pada jumlah kasus, tetapi juga berat badan pasien. "Misalnya, pasien dengan berat badan 80 kg akan minum 5 obat biru per hari selama 3 hari, jadi kebutuhan per hari adalah 15 tablet , berbeda dengan pasien yang berat badannya 60 atau 70 kg," jelasnya.
Untuk mempermudah akses, Dinas Kesehatan telah membuat Perjanjian Kerjasama (PKS) antara klinik dan Puskesmas. Pasien bisa mendapatkan obat gratis hanya dengan menghubungi Puskesmas terdekat melalui telepon atau WhatsApp, tanpa perlu bergerak jauh.
Tahun ini, kasus positif malaria diprediksi lebih rendah dibandingkan tahun lalu (sekitar 166-170 ribu kasus) dengan prevalensi diarahkan pada 16-18% untuk tahun 2025. Jumlah testing juga meningkat dari 700 ribu orang tahun lalu menjadi hampir 1 juta orang.
Reynold menambahkan bahwa Kemenkes saat ini fokus mempercepat eliminasi malaria melalui desa, dengan program pengobatan cepat sesuai standar yang akan dimulai Januari tahun depan. "Tujuan kami adalah obat tetap tersedia, pengobatan sesuai standar, dan benar-benar gratis," Pungkasnya.(ind)